Coretan politik,sosial,ekonomi,agama dan lain lain lagi di Malaysia dan seluruh dunia.
Sumber dari semua capaian internet.
email greenblacks8@gmail.com
Followers
Showing posts with label ahli sunnah wal jamaah. Show all posts
Showing posts with label ahli sunnah wal jamaah. Show all posts
Orang ramai memerhati berpuluh-puluh mayat yang bergelimpangan dipercayai pengikut Sunnah yang ditembak mati oleh kumpulan militan IS di sebatang jalan di bandar Hit, 140 kilometer ke barat Baghdad, pada 29 Oktober lalu
Kumpulan militan Negara Islam (IS) dilapor membunuh lebih 300 penduduk Iraq sepanjang minggu ini, sebagai membalas dendam terhadap tindakan puak kabilah di barat ibu negara ini membantu tentera pakatan menentang IS.
Menurut saksi, dua kubur besar turut ditemui di berasingan di wilayah Anbar mengandungi kira-kira 300 mayat pengikut Sunnah Muslim Albu Nimr dengan kesemua mangsa dipercayai berusia antara 18 dan 55 tahun.
Kesan tembakan jarak dekat turut ditemui ada mayat-mayat tersebut.
Selain itu, lebih 70 mayat lelaki daripada kumpulan yang sama ditinggalkan dekat pekan Hit yang merupakan kawasan majoriti penduduk Sunnah di wilayah tersebut.
Kebanyakan mangsa merupakan anggota polis atau pejuang anti-IS yang digelar sebagai Sahwa (kebangkitan).
Satu lagi kubur besar ditemukan dekat bandar Ramadi di wilayah yang sama, mengandungi 150 mayat pengikut tersebut.
“Militan IS mengarahkan pengikut kumpulan itu meninggalkan kampung mereka dan berpindah ke Hit, terletak kira-kira 130 kilometer di barat Baghdad dan memberi jaminan mereka tidak akan diapa-apakan.
“Tetapi militan IS bertindak kejam apabila menahan dan menembak mati kesemua mangsa tersebut,” kata saksi berkenaan yang enggan dikenali.
Dalam perkembangan di Syria, militan IS mendakwa menawan sebuah lapangan minyak di wilayah tengah Homs, selepas bertempur dengan tentera kerajaan, serta berjaya merampas lima kereta kebal, dua kenderaan berperisai, mesingan dan peluru.
Di pekan strategik Kobani pula, kumpulan pertama puak Kurdis Iraq tiba untuk membantu kumpulan bersenjata puak Kurdis Syria menentang kemaraan militan IS yang tidak terjejas, walaupun diserang tentera bersekutu yang diketuai Amerika Syarikat.
sumber...REUTERS/AFP
p/s... menurut sumber berita lain jumlahnya 85 orang dibunuh.
Orang
ramai memerhati berpuluh-puluh mayat yang bergelimpangan dipercayai
pengikut Sunnah yang ditembak mati oleh kumpulan militan IS di sebatang
jalan di bandar Hit, 140 kilometer ke barat Baghdad, pada 29 Oktober
lalu, - See more at:
http://www.utusan.com.my/berita/luar-negara/kumpulan-militan-is-bunuh-300-pengikut-sunnah-1.19269#sthash.LfWx4bUe.dpuf
Satu rakaman video di Youtube mendedahkan sekumpulan lelaki dipercayai
rakyat Malaysia berada di Syria untuk berperang kerajaan negara itu.
Rakaman berdurasi satu setengah minit itu dimuatnaik dengan tajuk dalam bahasa Sepanyol.
Rakaman itu dipercayai dibuat oleh seorang lelaki rakyat Malaysia dengan loghat utara.
"Kereta-kereta kebal sedang bergerak menuju ke
destinasinya....lihatlah sahabat-sahabat kita (laungan takbir),
sahabat-sahabat kita, semuanya kita akan syahid.
"Sahabat-sahabat kita semuanya bersiap siaga ke medan juang
..sahabat-sahabat kita tidak merasa takut dan merasa kental, kami sedang
bergerak (laungan takbir)," katanya yang merakam video itu.
Kemungkinan terdapat tiga lelaki warga Malaysia bertutur dalam Bahasa melayu mengikut rakaman tersebut.
Video yang diambil dari syriantube.net, telah dimuat naik pada 7 Jun lalu dan ditonton sebanyak lebih 5,000 kali.
Pada 18 Jun lalu, Wakil Tetap Syria ke PBB mendakwa seramai 15 warga
Malaysia terlibat dalam aktiviti-aktiviti jihad Kumpulan Negara Islam
Iraq dan Jajahannya (ISIL).
sumber...Mstar OL
Untuk renungan bagi orang yang berakalsihat
Media Barat seringkali menggambarkan teroris ISIS ultra -ekstremis
yang mendestabilisasi Irak dan Suriah sebagai “militan Sunni.” Headline-nya berbunyi,
‘Militan Islam Sunni Menguasai Mosul, ‘Militan Sunni Menguasai Kota
Irak Utara’ atau ‘Tentara Irak Mencoba Membalikkan Kemajuan Militan
Sunni’.
Media berkorporasi menggambarkan pertempuran di Irak sebagai konflik
Sunni vs Syiah. Dan yang disebut Sunni, menurut laporan tersebut, adalah
kelompok ISIS yang telah “bercerai” dengan Al-Qaeda karena terlalu
ekstrem.
Tapi benarkah bahwa ISIS benar-benar Sunni? Banyak ahli mengatakan
“tidak.” Sebagian lagi mempertanyakan apakah ISIS memiliki hak untuk
menyebut dirinya sebagai kelompok Islam.
Dalam sebuah wawancara dengan Truth Jihad Radio,
cendekiawan Muslim Dr John Andrew Morrow (Ilyas Abd al-’Alim Islam)
mempertanyakan keabsahan Islam-nya ISIS. “Banyak yang disebut jihadis
(seperti ISIS itu) sama sekali tidak berakar pada nilai Islam. Terutama
jika Anda melihat siapa yang mendanai, siapa yang mendukung, dan siapa
yang berada di balik mereka.
Negara-negara Barat memiliki sejarah
panjang menggunakan jihadis dan Islamis untuk melanjutkan ambisi negara
mereka sendiri. Dalam hal ini, para jihadis mungkin berpikir bahwa
mereka berjuang untuk Islam. Tetapi jika Anda melihat lebih dekat,
niscaya Anda menemukan bahwa mereka penyebab musuh [Islam] mengalami
kemajuan.”
Dr Morrow menunjukkan bahwa banyak perilaku ISIS yang terang-terangan
tidak islami. Dia mengatakan bahwa para teroris ISIS merekam diri
mereka sendiri saat melakukan kejahatan perang yang dilarang oleh Islam,
“Mereka sangat bangga melakukan kekejaman. Mereka mem-filmkan
[kekejaman] itu. Mereka lantas meng-upload ke internet, dan mereka
memiliki situs web sendiri. ”
Dr Morrow mengomentari video terkenal menunjukkan seorang teroris
Takfiri memakan hati seorang tentara yang telah meninggal. “Inilah yang
dilakukan Hindun. Anda [Takfiri] tidak mengikuti para sahabat, Anda
tidak mengikuti Nabi. Anda mengikuti [perilaku] orang musyrik yang
memerangi Nabi — jika Anda menyiksa mayat.”
“Dan ada video lain, seorang muslimah miskin yang dicekik sampai
mati. Maksudku, mereka yang berkerumun diantara pencekik itu,
meneriakan Allahu Akbar.”
Lalu, teroris ISIS baru-baru ini juga memposting video di internet
untuk menunjukkan bahwa mereka telah membunuh 1.700 tentara Irak yang
ditangkap. Mereka juga dilaporkan menewaskan puluhan Imam Sunni yang
menolak untuk bersumpah setia kepada ISIS. Dan mereka membunuh Muslim
Syiah tanpa pandang bulu.
Jika teroris adalah Muslim Sunni, mengapa mereka secara sistematis melanggar prinsip-prinsip Islam Sunni?
Bahkan, ISIS tampaknya jauh nilai-nilai Islam Sunni. Jenis “Islam”
yang usung oleh Takfiri ISIS merupakan Islam versi ekstrem dari ideologi
Salafi-Wahhabi. Orang-orang ini menolak lima mazhab besar Islam (aliran
pemikiran) termasuk mazhab Sunni yang empat. Jika Anda menolak semua
empat mazhab Sunni, bagaimana Anda dapat menyebut diri Sunni?
Bahkan, Salafi-Wahhabi ekstrem, termasuk ultra-ekstrim seperti ISIS,
telah merusak kemuliaan Islam seperti yang telah ada selama empat belas
abad. Dengan membuang prinsip-prinsip mazhab dalam Islam, dan melangkah
di luar Islam seperti yang biasa dipahami, mereka telah memasuki
wilayah yang sangat berbahaya. Yang mana mereka merasa bahwa hanya
mereka yang bisa membuat suatu aturan.
Jadi mereka membuat aturan seperti, “Tidak apa-apa untuk memperkosa
wanita Kristen dan Syiah. Tidak apa-apa untuk makan organ dalam musuh
yang telah mati. Tidak apa-apa untuk menikah atas nama ‘jihad nikah ‘
untuk melakukan hubungan seks dan menceraikan mereka setelah 30 menit.
Tidak apa-apa untuk menyalib orang-orang Kristen. Tidak apa-apa
mencekik wanita sampai mati. Tidak apa-apa melakukan pembunuhan massal
pada warga sipil. Tidak apa-apa mengeksekusi tawanan perang secara
massal.” Tidak ada orang Sunni dalam sejarah yang mengakui [teroris]
ini sebagai Islam Sunni.
Zaid Hamid, seorang Muslim Sunni yang menjadi analis bidang
pertahanan dari Pakistan, mengungkapkan bahwa ISIS dan
kelompok-kelompok teroris lainnya, tidak terkait dengan Sunni, tapi
mereka adalah Khawarij pelaku bid’ah yang melayani agenda plot
anti-Islam. Khawarij adalah kelompok ultra-radikal yang menolak sejak
awal baik Sunni dan Syiah.
Hamid berpendapat bahwa kelompok-kelompok ultra-radikal
mendestabilisasi Pakistan, Suriah dan Irak memang telah melangkah di
luar rambu-rambu Islam, dan memerangi Islam dan umat Islam demi Zionisme
dan imperialisme.
Tapi bukankah banyak Muslim Sunni di Irak mendukung ISIS?
Ya dan tidak. Memang benar bahwa beberapa orang Irak biasa dari latar
belakang Sunni telah bergabung melakukan pemberontakan bersama ISIS di
Irak. Terutama, kelompok pro-Saddam. Jadi, mereka tidak berorientasi
pada Muslim Sunni. Saddam Hussein, tentu saja, adalah seorang sekuler
radikal yang mengidolakan Stalin dan Hitler.
Partai Ba’ath ala Saddam adalah sebuah partai yang anti-agama dan
pro-sekuler, terbukti dengan kebencian Saddam pada kebangkitan Islam —
begitu ekstrim – ia memerangi Republik Islam Iran yang baru berdiri
dibawah pimpinan Ayatollah Khomeini – dengan tujuan mencegah kembali
lahirnya kekuatan Islam. Jadi, menyebut para pendukung Saddam Hussein
yang bergabung dengan ISIS dengan predikat “Sunni” adalah hal yang
menyesatkan. Pasukan Saddam, seperti halnya ISIS, menentang Islam baik
Sunni maupun Syiah tradisional.
Sunni adalah “orang-orang yang mengikuti tradisi Nabi dan para
sahabatnya (ahl as-sunnah wa l-jamaah)”. Memakan hati musuh yang telah
mati bukan bagian dari tradisi Nabi, dan itu adalah tradisi musuh Nabi.
Perilaku seperti itu jelas tidak benarkan oleh komunitas Muslim.
Tradisi Nabi Muhammad Saw adalah salah bertoleransi, saling
menghormati, dan membina hubungan diantara orang-orang dari suku dan
agama yang berbeda. Komunitas Muslim asli, tercermin dalam Piagam
Madinah, yang mana umat Kristen, Yahudi dan Muslim hidup bersama dan
berbagi kekuasaan dan kewajiban secara adil.
Tradisi lainnya, berpegang pada musyawarah/ dialog, dan menjadikan
kekerasan sebagai pilihan terakhir. Nabi Muhammad Saw dan keluarga
beserta sahabatnya melakukan dakwah damai selama 12 tahun, meskipun
mereka mendapatkan penyiksaan yang kejam, hingga akhirnya Allah
“mengizinkan” mereka untuk melakukan perlawanan.
Tradisi Nabi Saw, begitu menghormati ilmu pengetahuan sehingga
diibaratkan, “Tinta [tulisannya] seorang yang berilmu lebih berharga
daripada darah seorang syuhada.”
Lima mazhab Islam, baik empat mazhab Sunni dan madzhab Syiah Ja’fari –
merupakan pengejawantahan Islam. Semua Muslim Sunni sangat menghormati
Imam Ja’far al-Shadiq, Imamnya mazhab Syiah. Sehingga, para teroris yang
menolak, dan ingin membunuh semua orang yang tidak sepaham dengan
mereka, jauh di luar normatif Islam Sunni.
Jadi mengapa media mainstream Barat memberikan label “anti-Sunni”, atau kelompok anti-Syiah seperti ISIS sebagai “Sunni”?
Mungkin faktornya adalah kemalasan. Sejak ISIS terang-terangan
menunjukkan kebenciannya secara khusus terhadap Muslim Syiah, cara
paling sederhana untuk menggambarkan pertikaian tersebut sebagai konflik
Sunni vs Syiah. Dengan ini, media tidak perlu menjelaskan secara rinci
apa yang sebenarnya terjadi.
Tetapi, mungkin saja media sengaja memberikan informasi yang salah
saat melaporkan situasi. Para neokonservatif ekstrim Zionis meluncurkan
invasi AS ke Irak, yang bertujuan untuk memecah negara tersebut, dan
[memecah] Timur Tengah secara keseluruhan, dengan menghasut perselisihan
etnis dan sektarian. Konflik Sunni vs Syiah sengaja diciptakan dan
disebarkan oleh penjajah melalui gelombang operasi bendera palsu
terorisme. Mungkin corong media mereka memang “bertugas” memperkeruhnya.
Dalam kasus apapun, sesungguhnya Muslim Sunni di dunia sedang
difitnah setiap kali media menyebut ISIS sebagai “Sunni.” Sudah saatnya
Muslim Sunni menolak pembunuhan karakter atas keyakinan mereka. Mungkin
Muslim Sunni harus mengajukan gugatan terhadap media yang menyebarkan
fitnah ini.
Perbincangan kita masih berkisar fahaman tajsim dan Imam Ibnu Hajar
al-Haitami as-Syafie ketika ditanya mengenai akidah Imam Ahmad
menjelaskan imam terbabit berlepas diri daripada fahaman tajsim.
Beliau berkata lagi: “Janganlah kamu membaca apa yang tekandung
dalam kitab Ibnu Taimiyah dan muridnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.”
Antara kitab Ibnu Taimiyah yang mengandungi fahaman menjurus kepada
tajsim (bahkan sebahagian ulama menegaskan bahawa itulah fahaman
tajsim) adalah kitab at-Ta’sis, ar-Risalah at-Tadammuriyah, Fatawa Ibnu
Taimiyah, Minhaj al-Sunnah dan al-Arasy.
Imam as-Subki berkata: “Kitab al-Arasy (masih lagi dalam bentuk manuskrip) antara seburuk-buruk kitab beliau (Ibnu Taimiyah).
“Ketika Imam Abu Hayyan meneliti kitab itu beliau sentiasa mencela
fahaman dalam kitab berkenaan sehinggalah beliau mati sedangkan sebelum
itu beliau mengagungkannya (Ibnu Taimiyah).” (dinukilkan Imam
az-Zabidi dalam Syarh al-Ihya dan Imam an-Nabhani dalam Syawahid al-Haq)
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata dalam kitab ad-Durar al-Kaminah (dalam bab yang menterjemahkan biografi Ibnu Taimiyah):
“Ulama menisbahkannya dengan tajsim melalui perkataan beliau dalam
akidah al-Hamawiyah, akidah al-Wasathiyah dan lain-lain sebagaimana
beliau berkata ‘tangan, kaki, betis dan wajah’ adalah sifat hakiki bagi
Allah, Allah beristiwa di atas arasy dengan zat-Nya.
“Maka dikatakan kepadanya (Ibnu Taimiyah) ini melazimkan penisbahan tempat dan pembahagian anggota.
“Saya (Ibnu Hajar) tidak anggap menisbahkan tempat dan pembahagian
anggota itu antara keistimewaan jisim semata-mata, tetapi ini
menunjukkan beliau berkata dengan perkataan yang menetapkan tempat bagi
zat Allah.”
“Beliau juga menyalahkan Umar bin al-Khattab dan menyalahkan Amirul Mukminin Ali RA.”
Al-Allamah Imam Taqiyuddin as-Subki juga mengaitkan Ibnu Taimiyah
dengan fahaman tajsim dalam kitab beliau ad-Durrah al-Mudhiyyah.
Begitu juga dengan Imam Taqiyuddin Abu Bakr al-Hishni dalam kitab
beliau Daf Syubahi Man Syabbah. Maka sebaik-baik kita ialah berpegang
kepada pendapat jumhur ulama.
Ibnu Qayyim al-Jauziyah dan tajsim
Ibnu Qayyim antara murid Ibnu Taimiyah yang kuat memperjuangkan
fahaman tajsim. Syeikh Yusuf an-Nabhani menegaskan Ibnu Qayyim juga
antara mereka yang menetapkan jihhah (sudut) bagi Allah seperti guru
beliau. (Syawahid al-Haq, halaman 191)
Kitab Qasidah an-Nuniyyah dan kitab Ijtima al-Juyush al-Islamiyyah
karangan Ibnu Qayyim adalah kitab yang meneruskan doktrin Ibnu
Taimiyyah secara lebih terperinci.
Ibnu Qayyim seorang ulama yang diakui memiliki ketinggian ilmu
dalam pelbagai bidang, berjasa dalam mengembangkan ilmu tasawuf dalam
bentuk yang mudah khususnya melalui kitab beliau seperti Madarik
as-Salikin, ad-Da Wa ad-Dawa, Thariq al-Hijratain dan Ighasatul Lahfain.
Namun, sesetengah pendapat beliau ditolak majoriti ulama kerana
beliau masih terpengaruh dengan fahaman Ibnu Taimiyah yang syaz (diragui
atau ganjil).
Antara perkataan Ibnu Qayyim yang mempunyai unsur fahaman tajsim
ialah: “Allah jika Dia kehendaki Dia akan menetap di atas belakang
nyamuk.” (Ijtima al-Juyush al-Islamiyyah, halaman 85)
Ibnu Qayyim juga terbabit dengan fahaman yang mendakwa Allah akan
meletakkan Rasulullah di atas arasy bersebelahan dengan-Nya.
Dakwaannya Rasulullah akan didudukkan oleh Allah di atas arasy di
sebelah Allah diperkatakan dalam kitab Bada’ik al-Fawaid, lalu
dinisbahkan perkataan itu kepada sesetengah salafussoleh. Subhanallah!
Syeikh Usamah al-Azhari pernah ditanya mengenai pendirian al-Azhar
terhadap Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim, lalu beliau menjawab:
“Setelah tercetaknya kitab Ijtima al-Juyush al-Islamiyyah karangan
Ibnu Qayyim, maka al-Azhar mengadakan suatu persidangan tergempar untuk
mengkaji fahaman yang terkandung dalam kitab berkenaan.
“Akhirnya persidangan membuat kesimpulan setelah penelitian yang
mendalam dilakukan. Kitab itu adalah kitab yang sesat dan perlu dijauhi
oleh umat Islam.”
Walaupun Syeikh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyah adalah
tokoh ulama yang terkenal dalam bidangnya dan disanjung tinggi, mereka
dikritik hebat oleh majoriti ulama Ahli Sunah Waljamaah berhubung isu
zat dan sifat Allah.
Lantaran itu ulama menahannya daripada menyampaikan ilmu dan melarang orang ramai daripada membaca kitabnya. - Bersambung
Penulis Penolong Setiausaha di Kementerian Dalam Negeri
Kepimpinan ulama dan Unit Amal dari Iran, kata Mat Sabu
Mohamad berkata, beliau dan rakan-rakannya yang membawa konsep
kepimpinan ulama, Unit Amal bahkan lagu Unit Amal dari Iran ke dalam
PAS.
"Adakah kesemua mereka menjadi Syiah kerana saya membawanya dari Iran.
Sudah tentu tidak," katanya dalam wawancara khasnya dengan The Malaysian
Insider sambil bercerita, kurma dari Iran pun dilarang makan kerana
takut dituduh Syiah.
Timbalan Presiden PAS, Mohamad Sabu (gambar) menegaskan untuk
kesekian kalinya beliau bukan Syiah tetapi hanya membawa nilai-nilai
baik dari Iran untuk diamalkan di negara ini.
Mohamad berkata, beliau dan rakan-rakannya yang membawa konsep
kepimpinan ulama, Unit Amal bahkan lagu Unit Amal dari Iran ke dalam
PAS.
"Adakah kesemua mereka menjadi Syiah kerana saya membawanya dari Iran.
Sudah tentu tidak," katanya dalam wawancara khasnya dengan The Malaysian
Insider sambil bercerita, kurma dari Iran pun dilarang makan kerana
takut dituduh Syiah.
Katanya, setiap dua tahun sekali iaitu menjelang muktamar yang ada
pemilihan dalam PAS, isu Syiah akan bergema. Kali ini bukan di kalangan
PAS sahaja, isu ini juga dimainkan juga oleh pemimpin kerajaan,
agensinya dan media yang dikawal mereka.
Mohamad yang lebih dikenali sebagai Mat Sabu menjadi salah satu sasaran mereka apabila isu ini dimainkan.
Isu Syiah menjadi sangat hangat apabila perang saudara meletus di Syria
dan Iran serta Hizbollah (gerakan Islam di Lubnan) menyokong kerajaan
Syria pimpinan Bashar Al-Assad.
Mohamad diserang apabila beliau melawat negara tersebut ketika meletusnya perang saudara di sana.
"Sebenarnya perang di sana adalah agenda perebutan kuasa dan tidak ada
kaitan dengan perang antara Sunnah dengan Syiah sebagaimana yang
digembar-gemburkan.
"Presiden PAS, Hadi Awang telah menjelaskan perkara ini," katanya kesal dengan apa yang berlaku.
Mohamad menceritakan kembali bagaimana beliau boleh tertarik dengan
perjuangan Islam di Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeine.
"Semasa saya belajar di ITM dulu, awal 1970-an, kampus ketika itu
dipengaruhi oleh Abim dan PKPIM. Idola kami adalah gerakan Ikhwanul
Muslimin di Mesir pimpinan Hassan Al-Banna dan Syed Qutb.
"Apabila dunia dikejutkan dengan revolusi Iran pada 1978, saya yang
berada dalam Pemuda PAS ketika itu dipimpin Mustafa Ali (sekarang Datuk)
dan Haji Subky Latif selaku setiausaha, kami pergi ke sana," katanya.
"Apabila kita melawat Iran di awal revolusi, kami melihat kehebatan
ulamanya apabila mereka bercakap hal revolusi dan perjuangan. Kami rasa
kagum dengan ketrampilan mereka kerana selama ini di Malaysia, ulama
hanya tukang baca doa dan seumpamanya saja," katanya.
Dari situ, apabila pulang, Mohamad dan rakan-rakannya membawa konsep kepimpinan ulama yang diamalkan dalam PAS sekarang.
"Kami bawa usul kepimpinan ulama ini dalam Muktamar Pemuda 1982 di
Bukit Mertajam. Selepas diluluskan kami bawa ke Muktamar Pusat dan
diluluskan dalam Muktamar di Dewan Bahasa dan Pustaka tahun itu.
"Pada 1983, usul ini dibawa ke dalam Perlembagaan PAS, maka
terbentuklah Majlis Syura Ulama, badan tertinggi dalam PAS sekarang,"
katanya.
Sebab itu, katanya, konsep kepimpinan ulama ini bukan datangnya dari
Mesir atau Turki, tetapi datangnya dari Iran, kata Mohamad yang cuba
mengaitkan ramai pemimpin PAS yang terpengaruh dengan gerakan Islam di
Mesir (Ikhwanul Muslimin) dan Turki (AKP pimpinan Tayyib Erdogan dan
Saadet pimpinan Necmetin Erbakan).
Mohamad mengimbau kembali bagaimana beliau diseretkan dengan Syiah.
"Orang tuduh saya Syiah kerana saya kagum dengan perjuangan Hassan Nasrallah, pemimpin Hizbullah, Lubnan.
"Saya suka dia kerana, bila dia bercakap soal perjuangan, anaknya mati
di medan perang melawan Israel ketika umurnya 17 tahun, rumah kena bom
hancur berkecai.
"Bila dia cakap Islam dalam keadaan dagang, dia sendiri dagang bila
terpaksa bersembunyi ke sana kemari daripada pengeboman dan pembunuhan
oleh agen Isreal.
"Maka orang seperti Hasan Nasralah datanglah penghormatan kepadanya
dari penyanyi, pemain bola, orang awam, orang Kristian bahkan orang
tiada agama menerima kepimpinan Hassan Nasrallah sehingga kain jubahnya
itu diambil dan dipakai oleh anak-anak muda dan artis kononnya nak ambil
keberkatan... inilah contoh kepimpinan yang saya terima," katanya.
Katanya, kefahaman beliau dan rakan-rakannya ketika itu, kepimpinan
ulama ini bukan bermakna semua jawatan dalam PAS mesti dipimpin ulama.
"Kefahaman kita, presiden dan ke bawah boleh di isi sesiapa saja yang
layak dan mampu tetapi Majlis Syura Ulama hendaklah di isi oleh orang
yang ada latar belakang pendidikan agama secara formal.
"Ini kefahaman kami ketika meletak Majlis Syura Ulama sebagai badan tertinggi dalam parti," katanya.
Bagi beliau, pada peringkat awal konsep ini diamalkan, gandingan yang
baik berlaku antara Yusof Rawa dengan Datuk Fadzil Noor dan Datuk Fadzil
dengan Datuk Seri Abdul Hadi Awang yang kebetulan semuanya dari aliran
agama.
"Bagi saya siapa saja boleh pegang presiden dan lain-lain jawatan.
Kalau ulama yang mahu memegang jawatan itu, bukan melalui title atau
bertenggek atas nama ulama saja, mesti memenuhi syarat kepimpinan,"
katanya.
Katanya, beliau menerima orang seperti Datuk Nik Aziz Nik Mat, Datuk
Fadzil Noor dan Datuk Seri Abdul Hadi untuk memimpin PAS kerana
kelebihan yang mereka ada.
"Mereka ada kelemahan tetapi kelebihan yang ada pada mereka mengatasi
semua yang lain, maka orang seperti itu layak untuk memimpin," katanya.
Beliau berkata, apabila dia dan rakan-rakannya melawat Iran selepas
revolusi Iran pada 1978, mereka tertarik dengan gerakan sukarela di sana
yang dinamakan Jihad Sizendagi.
Kumpulan inilah yang berjaya membawa keluar rakyat Iran dari buta huruf
yang tinggi di samping masalah bekalan elektrik luar bandar yang
rendah.
"Bila kita balik, kami ambil semangat itu maka tertubuhlah Unit Amal,
bahkan lagu Unit Amal adalah inspirasi dari lagu itu yang dinyanyikan
oleh anak muda di sana," katanya yang menjelaskan dari manakah asal usul
Unit Amal, badan kebajikan dan kawalan yang sangat berpengaruh dalam
PAS sekarang.
Katanya, langkah ini diambil sesuai dengan konsep hikmah dalam Islam
iaitu hikmah itu benda yang tercicir dan jika diambil ia akan menjadi
hak orang yang mengamalkannya.
"Kita tidak pun menyeru orang mengambil syiahnya tetapi mengambil
sistem, cara dan bagaimana mereka boleh gerakkan rakyat menumbangkan
satu regim yang zalim," katanya.
Beliau berkata, kunjungannya ke Syria dua tahun lalu dimainkan daripada perspektif mazhab terutama menjelang muktamar kali ini.
"Tahun ini lebih dahsyat bila saya kunjungi Syria sebelum ini. Yang
saya jumpa semuanya ahli Sunnah wal Jamaah. Muftinya, Dr Said Ramadhan
Albutti, Menteri Wakaf, Menteri Perpaduan... semuanya sunnah...
sebenarnya di sana tidak timbul isu Sunni dan Syiah ni, ia adalah
pertarungan merebut kuasa," katanya. – 27 September, 2013.
Sori arr..
Wa pon sokong ikut tajuk gak..hahaha
Pakai ayat Aduka Taruna jap..
Mahathir dan Khatami minta OIC selesai isu Sunnah dan Syiah
PUTRAJAYA - Bekas perdana menteri Tun Dr Mahathir Mohamad dan bekas
presiden Iran Mohammad Khatami hari ini meminta Pertubuhan Kerjasama
Islam (OIC) membentuk sebuah pasukan petugas bagi mengkaji secara
mendalam perpecahan yang berlaku antara puak Sunnah dan Syiah.
Dalam rayuan bersama yang bertujuan menamatkan keganasan dan
pertumpahan darah antara kedua-dua puak itu, dua pemimpin terkemuka
tersebut berkata pasukan petugas berkenaan mungkin dapat mengemukakan
cadangan konkrit untuk diambil tindakan oleh para pemimpin ummah dan
politik berhubung perkara itu.
Dr Mahathir berkata hasrat beliau adalah semata-mata untuk melihat
keganasan dan pertumpahan yang berlaku antara puak itu, dihentikan.
"Saya tak ada agenda yang terlalu besar seperti untuk menyatukan umat
Islam kerana saya berpendapat tugas itu boleh diserahkan kepada orang
lain. Tapi, biar apapun perkara yang menjadi perselisihan antara
mereka, janganlah sampai membunuh satu sama lain," katanya kepada
pemberita sebelum melancarkan Rayuan Bersama itu, yang dibuat untuk
julung kalinya oleh dua negarawan terbabit di bangunan Yayasan Keamanan
Global di sini.
Khatami diwakili penasihat khasnya Dr Ali Khosroo, manakala presiden
International Movement for a Just World (JUST) Dr Chandra Muzaffar juga
turut hadir pada sidang akhbar itu.
Rayuan Bersama itu, yang akan disiar secara dalam talian dalam lima
bahasa - Melayu, Inggeris, Arab, Urdu dan Perancis, antara lain
mengandungi rayuan kepada individu dan kumpulan masyarakat sivil yang
prihatin dari seluruh dunia supaya bersama-sama menyertai usaha
tersebut.
Dr Mahathir, yang komited untuk menamatkan sengketa antara dua puak
itu, berkata umat Islam, tanpa mengira mazhab dan doktrin, perlu
menunjukkan kepada dunia bahawa Islam adalah agama yang menganjurkan
perdamaian.
"Bagaimanapun, ketika ini, kita tidak boleh mendakwa demikian apabila
kita berperang sesama sendiri. Atas sebab inilah saya sependapat dengan
Dr Khatami, seorang pengikut Syiah, membuat rayuan ini kepada saudara
seagama kita, tidak kira daripada puak Sunnah atau Syiah, agar kita
sekurang-kurangnya dapat hidup bersama secara aman dan bersama-sama
menangani bahaya yang sedang kita hadapi," katanya.
Ditanya tentang kemungkinan terdapat peranan pihak ketiga yang
menyebabkan tercetusnya perbalahan antara dua puak berkenaan, Dr
Mahathir berkata bukti wujudnya perkara itu memang ada.
"Sebab ia memenuhi tujuan mereka, mereka tidak perlu membunuh kita,
kitalah yang berbunuh-bunuhan sesama sendiri, jadi mereka mendapat
segala keuntungannya kerana kita menjalankan tugas itu untuk mereka.
Kita jugalah yang rugi jika kita menjadikan keadaan ini lebih parah,"
katanya.
Sementara itu, dalam mesejnya melalui video, Khatami berkata memang
tidak dapat dinafikan bahawa permusuhan antara puak Sunnah dan Syiah
telah mencemarkan imej dan maruah umat Islam di mata dunia.
"Ia jelas sekali melemahkan umat Islam. Ia menjadikan kita lebih
terdedah kepada manipulasi dan rancangan jahat anasir luar yang berazam
untuk menggugat perpaduan serta integriti ummah," katanya.
Sambil mengalu-alukan usaha dua pemimpin dari negara pengikut Sunnah
dan Syiah itu, Dr Chandra berkata inilah kali pertana dua pemimpin utama
dunia Islam kontemporari itu, tampil secara bersama.
"Idea mengenai rayuan ini tercetus dalam satu perbualan pada Mei 2011
ketika saya bertemu Dr Khatami di Iran. Saya mengemukakan cadangan
tentang rayuan ini kepada beliau dan Tun M juga memberi sokongan kuat
terhadap idea ini. Ia (rayuan berkenaan) terhasil daripada keikhlasan
dan komitmen dua tokoh hebat ini," katanya.
Dr Chandra berkata satu seminar dan bengkel berhubung perkara itu akan
diadakan tidak lama lagi, yang akan disertai puak Sunnah dan Syiah.
Apa sahaja tulisan yang cuba menghuraikan apa yang sedang berlaku di Timur Tengah – tanpa memahami ekonomi dan kepentingan kaum pemodal – maka analisa itu akan kantoi. Hasilnya bukan satu analisa yang kukuh yang boleh membawa pencerahan tetapi cakaran perasaan ‘kesukuan mazhab’ yang amat cetek dan kurang ilmiah.
Analisa politik tanpa ekonomi akan menghasilkan analisa yang tidak mendalam yang hanya berupaya membincangkan nama watak, nama tempat dan apa yang telah atau sedang berlaku. Politik Timur Tengah tanpa diikat rapat dengan bahan bakar petrol bukan satu analisa politik yang tuntas.
Saya perhatikan masih ada lagi yang gagal memahami konflik antara Amerika dengan Syria. Masih ada lagi yang mengira mayat di Syria sebagai tanda kezaliman Presiden Bashar. Yang menjadi lawak sedih ialah apabila tukang kira ini juga – mungkin kerana mangsa guruh – telah tidak pula mengira mayat-mayat yang terus bergelempangan di Pakistan akibat serangan drone. Drones ini ialah kapal terbang pengembom tanpa pemandu milik kuasa imperialis Amerika.
Ramai yang masih berpendapat bahawa apa yang sedang berlaku di Syria ialah pertembungan antara mazhab Shia dengan Sunni. Pandangan ini salah. Pandangan inilah yang sedang dijual oleh media antarabangsa. Inilah juga ‘cerita’ yang dipungut oleh Pak Lebai dan Pak Khatib ketika mereka cuba memberi ‘kuliah pencerahan’. Kuliah perncerahan berbentuk ini samalah saperti Rosmah Mansor memberi kuliah tentang berjimat cermat – sesat lagi menyesatkan.
Sekali lagi di sini saya nyatakan bahawa apa yang sedang berlaku di Timur Tengah khususnya di Syria adalah hasil perancangan kaum pemodal antrabangsa bersama NATO. Rancangan untuk mengubah lanskap politik Timur Tengah telah lama di rancang.
Seymour Hesh pada 5 March 2007 dalam majalah New Yoker telah membocorkan dengan panjang lebar strateji Amerika yang baru untuk menundukkan rejim-rejim yang dilihat gagal untuk menjadi barua setia saperti Saudi Arabia.
Jantan Yahudi yang bernama Seymour Hesh ini pada tahun 1969 telah memeranjatkan dunia dengan laporan My Lai. Ini adalah berita jenayah perang Presiden Richard Nixon di Vietnam. Orang kampung di My Lai telah dibunuh beramai-ramai oleh soldadu Amerika dalam usaha sia-sia untuk mengalahkan Gerakan Pembebasan Vietnam.
Wartawan ini juga telah bertanggungjawab membocorkan berita tentang apa yang sedang dilakukan oleh soldadu Amerika terhadap para tahanan di Abu Ghraib Iraq pada tahun 2004. Laporan Abu Gharaib ini telah mensahihkan sekali lagi bahawa kempen ‘demokrasi dan hak asasi’ yang dibawa oleh Amerika ke Timur Tengah hanyalah tipu helah untuk menakluk telaga minyak di Iraq
Menurut Seymour dalam tulisannya yang bertajuk Redirection dalam majalah New Yorker; pada tahun 2007- satu rancangan telah diatur untuk memastikan semua rejim-rejim yang dilihat degil dan tidak sudi tunduk kepada Amerika akan dijatuhkan. Antara perancang projek ini ialah Dick Chenny, Donald Rumsfled, dan Paul Wolfowitz. Termasuk juga Zalmay Khalilzad yang berasal dari Afghanistan.
Selain daripada menawan telaga minyak, rancangan ini juga untuk memastikan negara-negara ini akan dipaksa untuk membuka pasaran. Iraq yang tidak membenarkan syarikat minyak milik imperialis melabur carigali telah menjadi sasaran utama. Libya di bawah Muammar Gadaffi dilihat bahaya kerana dengan duit minyak Gaddafi telah dapat membantu negara Afrika untuk menolak kemasukan soldadu Amerika ke bumi Afrika. Manakala Iran ketika ini sedang dikepong dengan sekatan ekonomi yang bertujuan melemahkan untuk senang ditakluk.
Latarbelakang projek Timur Tengah Baru ini ialah perang Iraq. Dalam pertempuran dengan gerila Iraq jelas kelihatan kekuatan bala tentera Amerika telah menerima tentangan hebat. Tentangan yang amat hebat telah dilakukan oleh rakyat Iraq - dari semua mahzab anak semua bangsa.
Dengan secara terancang untuk mengalahkan gerila pembebasan ini, Amerika telah memasukan jarumnya untuk melaga-lagakan warga Iraq. Amerika melalui ejen-ejennnya telah mengebom masjid dan tempat ibadah mazhab Syiah. Kemudian ejen yang sama akan pergi mengebom pula masjid Sunni.
Apakah kita semua lupa dengan nama Abu Musab al- Zarqawi – ketua gerila Sunni berkaki satu - yang cukup hebat menyerang soldadu Amerika. Sandiwara Zarqawi menjadi ‘absurd’ apabila dilaporkan juga bahawa si Zarqawi ini juga bermata satu. Sebenarnya si Zarqarwi yang licik ini hanyalah permainan propaganda Amerika dalam strateji pecah dan perintah.
Sama ada Zarqawi berkaki tiga atau bermata tujuh wujud atau tidak telah menjadi tidak penting. Apa yang penting melalui ‘ ledakan bom’ telah berlaku keretakan dalam setiakawan menentang imperialis dikalangan warga Iraq. Di bawah Saddam Hussein konsep pemisahan antara Sunni/Shiah telah cuba dibasmi. Kini perbezaan antara Sunni dengan Shiah telah digunakan oleh kuasa imperil Amerika untuk memadamkan gerakan gerila menentang mereka.
Dengan senyap-senyap Amerika juga telah memberi kelengkapan senjata kepada ‘kumpulan Shiah’ yang sedang naik minyak kerana masjid mereka dibom. Maka bermulalah pertelingkahan mazhab secara tersusun di bumi Iraq.
Rancangan licik ini sekali pandang memperlihatkan bahawa strategi ini menguntungkan Iran. Ini kerana rejim baru yang dinaikkan ke atas tahta di Baghdad adalah politikus Syiah yang amat bersimpati terhadap Iran.
Awas! Tidak begitu senang dibaca rancangan jahat ini. Jangan tersilap baca. Kaum pemodal dan kuasa imperial Anglo-Amerika bukan hanya merancanag untuk Iraq dan Iran, malah seluruh Timur Tengah. Lanskap politik baru dengan kemunculan rejim Syiah di Iraq yang ‘ tidak memusuhi Iran’ telah menakutkan Saudi Arabia dan juga semua Negara-negara Teluk. Apabila Saudi takut maka jarum Amerika telah berjaya.
Di sini muncul pula Putera Bandar bin Sultan sosok yang amat dipercayai oleh Raja Fahad. Semenjak tahun 1983 hingga tahun 2005, selama 22 tahun Bandar telah menjadi Duta Saudi ke Amerika. Ketika inilah Bandar telah bekerjasama dengan kumpulan Neo-Con untuk merancang dan mengubah lanskap politik Timur Tengah.
Kerjasama antara keluarga Saud dengan zionis Israel menjadi lebih mesra. Saudi dengan duit petrol telah berjaya ‘mematahkan’ revolusi Palestin. Perjuangan bersenjata Palestin kini menjadi mandul apabila banyak pemimpin Palestin terperangkap dengan ‘petro dollar’ yang dihamburkan oleh Saudi daripada bertempur dengan zionis Israel.
Harus diterima hakikat sebagai fakta sejarah bahawa Saudi dengan kerjasama Amerika dan CIA telah melahirkan Usama Bin Ladin dan juga apa yang dikenali sebagai Al-Qaeda. Dengan ‘petro dollar’ Saudi telah membiyai banyak kumpulan-kumpulan ‘salafi dan wahabi’ yang memiliki pandangan kolot, reaksionari, anti-perempuan dan kanan.
Sokongan Saudi ini tidak ada sangkut paut dengan agama. Agama untuk kaum kerabat Saud hanyalah telaga minyak yang menghasilkan petro dollar. Dengan menyokong kumpulan reaksionari Islam ini , keluarga Saud akan terus dapat bertahta di atas telaga minyak di Semenajung Arab. Melalui petro dolar Saudi dilihat sedia ‘berbelanja’. Ini akan mententeram suasana penentangan terhadap rejim keluarga Saud.
Penentangan Saudi terhadap Iran ini juga tidak ada sangkut-paut dengan teologi Islam, mazhab Sunni atau mazhab Shiah. Keluarga Saud menentang Iran kerana Iran sebuah republik. Ketika Iran di bawah Ahamad Reza Pahlevi dahulu hubungan keluarga Saud dan Pahlevi ini adalah baik dan tidak bermusuh. Kedua-dua Raja ini berlumba-lumba untuk menjadi barua Amerika. Dua negara ini berlumba-lumba membeli senjata dari kuasa Anglo- Amerika
Iran telah menghumbankan sistem beraja yang tidak wujud dalam teologi Islam. Tetiba Iran menjadi musuh. Dengan serta merta konflik Sunni/Syiah menjadi agenda utama. Iran membawa garis kesedaran baru untuk rakyat tertindas. Bayangkan jika umat Islam memiliki kesedaran bahawa dalam Islam tidak ada Raja , Shah, Malik atau Sultan – inilah yang mengerunkan keluarga Saud di Riyadh.
Di belakang Saudi ini ialah kuasa imperialis Anglo-Amerika dan syarikat minyak antrabangsa. Mereka memberi sokongan yang kuat kepada keluarga Saud. Keluarga Saud juga semakin intim hubungan mereka dengan Israel. Malah Israel dan Saudi terus menggalakan Amerika untuk menyerang Iran. Kepada Saudi Arabia, jika Iran ranap maka barulah mereka dapat bertenang.
Wajib juga kita semua sedar bahawa satelah PLO mandul dan gerila Palestin meninggalkan gerakan bersenjata , kumpulan yang masih berjuang mengangkat senjata hanya Hamas dan Hisbullah. Hamas kini menjadi pentadbir di Gaza. manakala Hisbullah menjadi satu gerakan politik yang ampuh di Lebanon
Di dalam Projek Timur Tegah Baru – Hisbullah yang disokong oleh Syria dan Iran ini dianggap ‘terrorist/pengganas’ oleh Amerika. Tetapi untuk warga Palestin dan warga Lebanon, Hisbullah adalah wira Arab yang masih berani mengangakat senjata melawan zionis Israel. Jika Syria atau Iran di serang tidak dapat tidak Hisbullah akan pasti menyerang Israel.
Pusing punya pusing kita akan sampai juga kepada Israel – punca segala masalah di Timur Tengah. Negara ‘pasang siap’ made in Amerika ini telah dipasang pada tahun 19848 dahulu sebagai strategi kuasa imperil untuk menggangu-gugat bumi Arab.
Israel kalau dikaji dengan rapi maka kita akan membuat rumusan bahawa Israel ini hanyalah pangkalan tentera Amerika yang tercanggih. Tugas Israel di Timur Tengah ialah untuk memastikan tidak ada negara di Timur Tengah yang berani sekali lagi bersuara saperti Saddam Hussein atau Muammar Gadaffy.
Perang yang dilancarkan oleh Amerika bertujuan untuk memastikan semua negara, semua rakyat dunia, anak semua bangsa akan tunduk kepada kuasa imperial Amerika. Kuasa imperial ini memerlu semua sumber bahan mentah jatuh ke tangan mereka. Semua punca ekonomi akan jatuh ke bawah kawalan mereka. Semua negara akan membuka pasaran mereka untuk kaum kapitalis antarabangsa membuat untung. Rakyat dunia hanya hanya diperlukan untuk menjadi konsumer yang setia tanpa banyak soal-jawab.
Kuasa imperial Anglo-Amerika memerlukan Hamid Karzai, Zadari, Al-Khalifa, Al-Malik Faizal dan bukan Bashar al-Assad dan Mahmooud Ahmadinejad yang menggangu aliran bahan bakar petrol ke pasaran dunia.
Oleh Hishamuddin Rais
Israel supports regime change in Syria: Israeli spy chief
The Israeli spy chief says Tel Aviv supports regime change in Syria, amid ongoing efforts by the anti-Syria governments to oust President Bashar al-Assad.
“I hope it (regime change in Syria) will happen, even though I don’t know when or how,” Dan Meridor, who also serves as the deputy prime minister of the Tel Aviv regime, said on Tuesday.
He also expressed “hope” that the “new Syria will understand that joining Iran is a mistake that brings isolation from the Western world.”
The latest remarks by the Israeli official come as anti-Syria Western regimes along with Saudi Arabia, Turkey and Qatar have been supporting insurgents inside Syria.
On August 5, US senators John McCain, Joseph Lieberman and Lindsey Graham said Washington should “directly and openly” provide assistance, including weapons, intelligence and training, to the insurgents in Syria.
The UK newspaper the Guardian reported on June 22 that the Saudi regime would pay the salary of the members of the terrorist Free Syrian Army to encourage “mass defections from the military and… pressure” the Damascus government.
On June 21, the New York Times reported that a group of CIA officers are operating secretly in southern Turkey and that the agents are helping the anti-Syria governments decide which gangs inside the Arab country will receive arms to fight the Syrian government.
Al-Qaeda terrorists have also been involved in the campaign against Damascus over the past months of unrest.
On Tuesday, Syrian security forces carried out an operation in the town of Tal Rafa’at, about 38 kilometers (23 miles) north of the city of Aleppo, killing two local al-Qaeda leaders.
Pada 2 Oktober 1960, dalam ucapannya di pembukaan Kongres Ahli-Ahli Tarikat As-Sufiah Seluruh Malaya, bertempat di Dewan Bandaran Kuala Lumpur, ahli politik dan agamawan terkenal tanah air yang dikenali sebagai Dr Burhanuddin al-Helmi telah memetik pandangan Syed Jamaluddin al-Afghani, seorang tokoh besar Islam.
Al-Afghani telah ditanyakan apakah makna kepada ‘benih pembaharuan Islam' yang beliau gagaskan; al-Afghani dikatakan membalas pertanyaan itu dengan jawapan yang panjang, sebahagiannya berbunyi:
"Hendaklah kita pulihkan kembali kepada kebenaran perbalahan antara Ahli Sunah dan ahli Syiah. Sesungguhnya perpecahan itu ialah rekaan raja-raja yang tamak..." (Burhanuddin al-Helmi, 2005: 39).
Ketika almarhum Dr Burhanuddin al-Helmi menghimbau kembali alam remajanya, dalam ucapan di kongres tersebut, beliau menjelaskan betapa beliau asalnya "memusuhi jumud dan kolot, pada saya tasawuf dan tarekat itu suatu ajaran mematikan semangat dan campur aduk dengan bidaah" (Burhanuddin al-Helmi, 2005: 34).
Beliau kemudian menyambung, "kemudian setelah saya siasati kedatangan Islam ke Nusantara kita ini dan datuk nenek kita memeluk Islam yang hanif ini terutamanya dan kesan-kesannya ialah daripada ulama Syiah dan ulama tasawuf sama ada ulama-ulama itu datang secara saudagar atau secara mubaligh, bukan masuk melalui ulama-ulama fikah, Islam masuk di Nusantara kita ini " (Burhanuddin al-Helmi, 2005: 35).
Perubahan set minda beliau itu dirujuk oleh Dr Burhanuddin al-Helmi sendiri sebagai "perlawanan di dalam diri saya sendiri" (Burhanuddin al-Helmi, 2005: 36).
Kenyataan-kenyataan Dr Burhanuddin al-Helmi di atas mengandungi makna tersendiri tentunya. Dalam kajiannya mengenai sistem pendidikan Islam di Malaysia, Ahmad Fauzi Abdul Hamid (2010) memaparkan bagaimana keluasan ilmu telah disingkatkan dan dikotakkan oleh sistem pendidikan Islam tempatan, pengkaji ini seterusnya mengulas pendapat Dr Burhanuddin al-Helmi itu seperti berikut:
"By stripping Islamic educatiopn of its pristine ideals, noble purposes and praiseworthy practices, the Malay-Muslim ruling establishment has transformed it into yet another area vulnerably bound to its largesse and patronage, which would ultimately be translated into political influence and support for Umno and BN. Political considerations explain the express prohibition of pluralisme within Malaysian Islam. Any sign of dissent from official Islamic orthodoxy is frowned upon as reflective of deviance that is liable to prosecution in religious courts. Yet, this homogenization of Islam runs against the grain of Islamic history, which is rich with contestations between sects, school of thought and factions. The sufi and Shi'a provenances of Malaysian Islam, as recognized by prominent Malay nationalist Dr Burhanuddin Al-Helmy, have not been fully acknowledge in Malaysia's official Islamic discourse as it does not tally with the ruling elites' hegemonic agenda based on carefully constricted version of Malay-Muslim unity. Thus, Malay Shi'as and sufis have been foremost at the receiving end of government heavy-handedness ostensibly based on the concern to maintain the purity of Islamic faith (Ahmad Fauzi Abdul Hamid, 2010: 76-77)."
Sebahagian besar objektif kajian Ahmad Fauzi Abdul Hamid adalah untuk menunjukkan betapa sistem pendidikan Islam Malaysia telah dibelenggu oleh satu faham, satu sekte atau satu sekolah pemikiran yang statik. Pilihan sekte ini dilakukan oleh state atau negara dan dipaksakan kepada setiap individu Islam.
Adalah penting supaya gejala minda tertawan ini dibebaskan dari kekangan mazhab dan putus-tentu sebuah majlis agama yang hari ini telah menetapkan supaya Islam yang dipraktikkan di muka bumi Malaysia haruslah dari satu acuan, satu sekte, dan kita penganut Islam hanya boleh memuaskan diri semata-mata dengan satu mazhab yang telah ada.
Alasan pihak majlis agama ialah kepelbagaian boleh mengakibatkan perpecahan. Gejala puas dengan satu sekte atau mazhab ini saya namakan sebagai homosektual. Lawannya adalah heterosektual.
Beberapa tahun setelah Dr Burhanuddin al-Helmi bersuara, iaitu pada tahun 1973, dalam sebuah seminar bernama ‘Simposium Sastera dan Agama'; penerbit, sasterawan, penterjemah, dan penerbit yang terkenal al-Marhum Ustaz Yusoff Zaki Yaacob (1986) mengkritik gejala homosektual ini;
"Di Malaysia, kurang terdapat kebebasan berfikir dalam persoalan-persoalan agama. Pemikiran yang menyimpang dari mazhab Syafie akan terdedah kepada tindakan Majlis-majlis Agama di setengah-setengah negeri di Malaysia. Misalnya, baru-baru ini Majlis Agama Perak telah mengharamkan pengedaran sebuah buku mengenai perancangan keluarga, yang dikarang oleh dua ulama besar Mesir dan diterjemahkan ke bahasa Malaysia oleh Jabatan Perancang Keluarga, kerana buku itu dalam penilaian Majlis Agama Islam Perak adalah bertentangan dengan pendapat kitab Al-Mahalli, sebuah kitab aliran mazhab al-Syafie yang amat dipegangi oleh pengikut-pengikut mazhab Syafie.
"Seandainya buku-buku Islamiah yang kontroversial seperti itu didedahkan kepada perdebatan-perdebatan yang terbuka dan bebas dari tembok-tembok mazhab, tentulah kita akan melihat satu polemik yang akan menghasilkan pemikiran-pemikiran Islamiah yang baru, kerana tidak ada pendapat yang mutlak dalam masalah-masalah ijtihad seperti itu.
"Pada hemat saya, adalah lebih membina dan berkesan jika suatu pendapat dalam masalah-masalah ijtihadiah yang kontroversial itu ditumpaskan dengan kekuatan hujah-hujah dari ditumpaskan dengan kekuatan undang-undang kerana cara yang demikian menyegarkan iklim berfikir.
"Di suatu masa yang lampau, karya-karya A Hassan Bandung dan karya-karya Abu Bakar Asyari dan karya Tuan Guru Haji Muhammad Noor Ibrahim, Mufti Kelantan telah diharamkan di Johor Baharu. Malah lebih jauh dari itu dia setengah-setengah negeri di Malaysia, semua kitab-kitab agama harus lebih dahulu disahkan oleh Majlis Agama sebelum diterbit dan diedarkan.
"Inilah saki baki undang-undang penjajah yang digunakan untuk membunuh perkembangan pemikiran-pemikiran Islamis yang dinamis. Undang-undang yang merugikan itu merupakan satu undang-undang agama tahun 1904 yang diperbaiki dalam tahun 1925. Menurut undang-undang ini, sesiapa yang mengecap buku agama tanpa izin dari Majlis Agama akan didenda dua ratus ringgit atau dihukum penjara." (Yusoff Zaki Yaacob, 1986: 9-10)
Kecaman al Marhum Yusoff Zaki di atas bukanlah sesuatu yang asing, Abdullah Taib (1985) seorang antropologis terkenal tanah air dalam bukunya yang berjudul Asas-Asas Antropologi menulis;
"Sejak tahun 1920-an beberapa buah negeri di Tanah Melayu telah menubuhkan Majlis Agama dan Adat Istiadat Melayu. Hingga ke hari ini sudah hampir 60 tahun majlis itu berjalan atas nama seperti itu. Penubuhan majlis agama ini ialah hasil ‘kebijaksanaan' penjajah Inggeris" (Abdullah Taib, 1985: 226).
Harus diingatkan buku beliau ini telah menjadi teks subjek antropologi di kebanyakan universiti-universiti tempatan untuk satu tempoh yang agak lama. Untuk merungkai kekangan dan warisan penjajah ini dari terus membarah, al Marhum Yusoff Zaki (1986: 10) mencadangkan satu rumus iaitu supaya faham heterosektual menjadi pegangan:
"Kini di saat kita mengkehendaki satu bentuk pemikiran Islam yang dinamis, sesuai untuk menjiwai pembangunan kita, maka undang-undang yang cuba menahan perkembangan pemikiran Islam dalam tembok-tembok mazhab yang sempit itu perlu dihapuskan.
"Masanya telah tiba untuk kita memulakan perkembangan pemikiran Islamiah yang tidak tertakluk kepada satu mazhab, kerana persoalan-persoalan yang timbul di zaman moden ini tidak mampu diatasi dengan pemikiran mazhab Syafie sahaja.
"Inilah beberapa faktor yang mendinginkan suasana penulisan Islamiah yang serius di negeri ini. Masalah-masalah ini perlu dihadapi dan diatasi dengan tegas. Jika tidak, masa depan perkembangan karya-karya Islamiah akan lebih gelap dan terus menerus miskin."
Sergahan minda yang segar dari ustaz Yusoff tersebut disambut beberapa tahun kemudian oleh almarhum Profesor Dr Syed Hussein al-Atas (1979) dalam satu acara untuk Hari Sastera yang berlangsung pada 24-27 Julai 1978 di Kuala Terengganu.
Profesor Syed Hussein menyebut:
"Bagi para penulis dan penyair kita di Malaysia dan Asia Tenggara seluruhnya, apakah ertinya soal pembukaan kembali pintu ijtihad ini? Ertinya mereka harus menghidupkan semangat bebas berfikir, bebas dari belenggu feudalisme; dari belenggu faham-faham yang sudah usang; dari belenggu faham taklid yang negatif. Mereka mesti menghidupkan semangat ini hingga ada nanti yang terpengaruh dan tampil ke muka, di kalangan generasi yang akan datang, bagi mendirikan sistem-sistem pemikiran yang dapat menggerakkan jiwa masyarakat ke arah kemajuan dan keadilan. Sebagai penulis-penulis Islam mereka mesti mengetahui dasar-dasar agama Islam; mesti mengetahui tentang ilmu-ilmu zaman sekarang; mesti mengetahui tema-tema yang penting dan yang belum cukup diperhatikan; mesti pandai mengolah unsur-unsur Islam, ilmu pengetahuan, tema, jalan cerita dan keadaan sekeliling, dalam satu hidangan yang akan berhasil meninggikan darjat kesedaran, pemikiran dan perjuangan ke arah yang murni" (Syed Hussein al-Atas, 1979: 91-92).
Sesungguhnya belenggu feudalisme yang disebutkan oleh Syed Hussein al-Atas ini merujuk kepada feudalisme dalam bidang ilmu itu sendiri. Adalah sangat menarik, saudara kepada al-Marhum Syed Hussein al-Atas iaitu sarjana besar tanahair, Profesor Syed Naguib al-Attas (1979: 1-5), hampir setahun sebelumnya telah pun mengusulkan hal yang hampir sama di pentas antarabangsa.
Dalam tulisannya yang bernas, Profesor Syed Naguib al-Attas (1980) menyatakan pengajian fardu ain yang diterapkan dalam pendidikan Islam sebagai contoh haruslah membawa sama sentuhan Syiah (dan tentu sahaja Sunni). Beliau menyatakan pendidikan yang beliau maksudkan itu bukan sahaja di peringkat tinggi, iaitu universiti, tetapi juga mencakupi dunia pendidikan anak-anak di peringkat sekolah rendah. Sebagai bukti, tulisan beliau dirujuk di sini:
"The core knowledge representing the fardu ‘ayn, integrated and composed as a harmonius unity at the university level as a model structure for the lower levels, and which must invariably be reflected in successively simpler forms at the pre-university, secondary, and primary levels of the educational system thoughout the Muslim world, must reflect not only the Sunni understanding of it, but also accomodate the Shi'i interpretation." (Syed Naguib al-Attas, 1980: 42).
Pandangan (mungkin kata yang lebih tepat ialah impian) beliau di atas membawa kesan positif yang besar tentunya jika dipraktikkan untuk generasi Muslim yang ada. Malangnya, menurut kajian Ahmad Fauzi Abdul Hamid (2010) gagasan murni Profesor Syed Naguib itu diketepikan malah tidak pun diperhitungkan sama sekali oleh pihak berkuasa negara ini demi menjaga status-quo pemerintah:
"The ideal form and practice of an Islamic curriculum, as conceived for instance by Syed Naguib Al-Attas, remains far-fetched in state-sanctioned Islamic education in Malaysia. The outcome in terms of enforcement of narrowly interpreted religious law against Muslim non-conformists is all too obvious in Malaysia. Whereas Al-Attas' scheme was broad enough to accommodate even Shi'a interpretations of the revealed sciences, Malaysia has been fastidious in instituting pre-emptive action against and punishment of Malay-Muslims who profess the Shi'a variant of Islamic faith deemed to have deviated from the path of Sunni orthodoxy." (Ahmad Fauzi Abdul Hamid, 2010: 52).
Pendita Za'ba jauh terdahulu dari tokoh-tokoh yang telah saya sebutkan tadi telah mencadangkan rumus supra mazhab atau heterosektual ini, iaitu dengan menggunakan akal fikiran yang sihat, dan tidak bertaklid buta. Dalam tulisan beliau di Qalam bilangan 31 bulan Februari 1953, Pendita Za'ba menolak sama sekali apa yang beliau namakan sebagai ‘taklid buta':
"Demikian lagi pada pihak usul (akidah) dan tasawuf: Kita lihat Hasan al Basri, Abu Hassan al-Asyaari, Imam al Harmin, al Ghazali dan lain-lain, semuanya itu daripada orang yang bebas dan merdeka memakai fikiran dan timbangan mereka sendiri pada masing-masing cawangannya, di bawah suluhan ilmu dan akal mereka sendiri masing-masing. Tiap-tiap seseorangnya itu bersendiri memahamkan dan menguji segala pegangan-pegangan agama yang diterima atau ditolaknya. Mana-mana masalah yang telah sedia diputuskan oleh orang lain dahulu daripadanya maka diperiksanya dan ditimbangkannya semula. Kalau munasabah pada pendapatnya sendiri maka diterimanya, kalau tidak maka ia sendiri ada jalan lain memahamkannya dengan fahaman yang lain pula. Maka dengan demikianlah telah terjadi pada bahagian usul bermacam-macam mazhab dan pembawaan pula seperti mazhab Jabariah, mazhab Qadariah, mazhab Muktazilah, mazhab Ahli al Sunnah, Mazhab Kharajiah, Mazhab Zaidiah, Mazhab Amamiah, Mazhab Abadiyah dan lain-lain lagi. Dan pada bahagian tasawuf kita dapati berbagai-bagai cara tarekat seperti Qadariah, Naksyibandiah, Satariah, Samaniah, Muhammadiah, Ahmadiah dan lain-lain pula. Akan sebabnya terjadi sekalian itu, baik pada usul atau pada fikah atau pada tasawuf, ialah oleh kerana pendeta-pendeta agama kita pada masing-masing zamannya dahulu itu tidak hanya bertaklid kepada pendapat orang lain sahaja, melainkan masing-masing tahu mengambil fahaman bersendiri dan menerbitkan pendapat sendiri daripada punca-punca yang diberi di dalam Quran dan sunah itu." (Za'ba, 2009: 138)